Antara “Harapan” dan “Angan-angan”

Secara etimologis, kata khitoh berasal dari bahasa Arab yang berarti rencana, jalan, atau garis. Dengan demikian, khitoh perjuangan dapat diartikan sebagai rencana, jalan atau garis perjuangan dalam mewujudkan misi dan cita-cita sebuah gerakan.

Khitoh perjuangan berisi pokok-pokok pikiran yang diharapkan dapat menjadi garis perjuangan ke depan. Di dalam rumusan khitoh perjuangan ini terkandung aspek pembaharuan sekaligus kesinambungan. Aspek pembaharuan diarahkan pada upaya peneguhan exsistensi sebagai gerakan Islam yang mampu menyelesaikan problematika umat Islam. Sementara aspek kesinambungan merupakan upaya mempertahankan hasil positif yang selama ini dilakukan.

Khitoh perjuangan diharapkan bukan hanya sekedar retorika yang kaya wacana tetapi miskin kerja nyata. Melalui khitoh, gerakan diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemulihan krisis yang telah lama menghimpit sendi-sendi kehidupan di tubuh generasi muda PERSIS. Sudah saatnya generasi muda PERSIS bangkit sebagai kekuatan terdepan di dalam merespon dan menyikapi dinamika zaman. Generasi muda PERSIS harus tekun, rajin, kreatif, aktif, dinamis, enerjik dan revolusioner.

Pelaku sejarah masa depan adalah kita sebagai angkatan muda, baik dan buruknya sejarah tergantung bagaimana kita mempersiapkannya sekarang, sejarah tidak bisa di rubah dengan instant pepatah arab menyebutkan “ al-bunyan la taqumu fi yaumin wa lailatin”. Akan tetapi memerlukan waktu. Dan waktu untuk mewujudkan sejarah yang kita inginkan adalah sekarang. Sebab tanpa mempersiapkan untuk masa depan tanpa di barengi dengan perjuangan atau tindakan yang nyata itu akan sia-sia, dan perlu kita ketahui perbedaan antara harapan dan angan-angan sangatlah tipis. Harapan adalah sesuatu keinginan yang di barengi dengan tindakan yang nyata sedangkan angan-angan adalah sesuatu keinginan yang tidak dibarengi dengan tindakan yang nyata. Angan-angan merupakan hal yang harus kita hindari sebab, itu adalah datangnya dari setan, yang merupakan salah satu strategi syaitan untuk menjauhkan manusia dari Alloh SWT. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 120. yang artinya :”Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka”.

Kita tidak asing dengan kalimat Rijalul Ghad dan Umahatul Ghad sewaktu kita di Pesantren dan bahkan sampai sekarang masih di gunakan sebagai nama sebuah organisasi santri di seluruh Pesantren Persatuan Islam, hal ini tidak lain adalah untuk mengingtkan kepada kita bahwa pemuda sekarang adalah bapak yang akan datang begitu pula pemudi sekarang adalah ibu yang akan datang. Dalam mempersiapkan diri untuk hari esok. Dalam konteks ini, firman Alloh SWT dalam surat Al-Hasyr ayat 18 berikut ini perlu menjadi pijakan dalam setiap gerak dan langkah kita. Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Fenomena perubahan dunia yang menuntut setiap orang untuk terlibat aktif dalam mewarnai perkembangan peradaban. Kompetisi dan persaingan dalam seluruh aspek kehidupan harus dihadapi bukan dihindari.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa peradaban barat lebih maju dari peradaban Islam, antara lain dibuktikan dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan stabilitas kehidupan sosial politik yang dicapai barat. Dengan menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat fisik material, fenomena kebangkitan Peradaban Barat merupakan keniscayaan.

Namun bila dikaji lebih dalam, kemajuan sains dan teknologi yang menjadi basis fundamental bangunan peradaban Barat justru telah menelantarkan dunia diambang pintu krisis global yang semakin hari semakin menghawatirkan. Krisis global yang dihadapi umat manusia di planet ini telah menyentuh hampir seluruh dimensi kehidupan seperti bidang kesehatan, teknologi, ekonomi, politik, ekologi, dan hubungan sosial. Krisis juga melanda dimensi-dimensi intelektual, moral dan spiritual. Anehnya, peradaban Barat ini dijadikan sebagai cermin yang harus diikuti oleh semua Negara, termasuk Negara-negara Islam. Inilah yang menyebabkan rapuhnya fondasi peradaban dunia secara global.

Kerapuhan fondasi peradaban Barat itu merupakan peluang besar bagi kita sebagai generasi muda untuk membangun peradaban alternative yang berdimensi moral dan spiritual. Agenda utama yang harus dikedepankan antara lain membangun kesadaran eksistensial manusia yang tidak terpisahkan dari Allah SWT. Keyakinan terhadap kehadiran Allah SWT dalam seluruh dimensi kehidupan akan memberikan kekuatan sekaligus kedamaian dalam hati setiap manusia yang menjadi aktor pendukung setiap kebudayaan.

Hal ini harus menjadi spirit dan landasan bagi setiap aktivitas dan kreativitas yang dilakukan oleh kita. Dengan semangat ini, kita harus tampil sebagai pelopor dalam mewujudkan pencerahan peradaban. Dulu PERSIS lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berpikir), terperosok ke dalam mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, tahayul, syirik, musyrik dan rusaknya moral. Dan lebih dari itu umat islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Akan tetapi sejalan dengan perubahan zaman tantangan itu bertambah umat Islam berada dalam keterkungkungan, kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Selain itu bid’ah-bid’ah modern bermunculan untuk melemahkan iman umat Islam. Contohnya adalah sebuah kenyataan bagi kita yang sedang kita hadapi sekarang adalah telah munculnya paham-paham Islam liberal dan pluralisme agama, merupakan hasil dari perusakan citra Islam oleh Barat. Dalam pandangan Barat, sebuah agama yang bertentangan dengan nilai dan budaya Barat akan di anggap sebagai agama ekstrim. Melalui paham pluralisme, umat Islam diajak untuk memahami bahwa semua agama adalah sama dan tidak ada perlunya bersikap loyal kepada agama Islam. Dengan cara ini, kaum muslimin diseret kepada berbagai penyelewengan moral dan pelanggaran ajaran-ajaran agama Islam yang murni.

Bertolak dari realitas obyektif di atas, generasi muda dituntut untuk mewujudkan peradaban Islam masa depan dengan melakukan upaya-upaya rekonstruktif melalui upaya pembumian wahyu melalui kontektualisasi ajaran Islam. Kontektualisasi ajaran Islam tentu saja harus di barengi dengan upaya eksplorasi ilmu pengetahuan ( scentitific exploration). Di samping itu generasi muda juga harus mengambil peran dalam upaya mencari penemuan-penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan (scentitific discovery) Dengan ilmu pengetahuan yang berorentasi ilahiyah, tatan kebudayaan dan peradaban dunia dapat diwujudkan secara baik.

Sekarang kita hidup bukan dijaman orang-orang terdahulu dimana mereka berjuang memberantas khurafat, bid’ah, takhayul, musyrik dan melepaskan dari cengkraman penjajahan kolonial Belanda yang ingin memadamkan cahaya Islam. Tantangan zaman sekarang jauh lebih berat. Paparan di atas adalah sebuah realita yang sedang kita hadapi keberpihakan zaman tegantung peranan kita sendiri. Akankah khitoh generasi muda PERSIS dijadikan sebagai sebuah harapan yang di buktikan dengan sebuah tindakan yang nyata ataukah hanya sebuah angan-angan belaka? sebuah perubahan tidak akan datang begitu saja akan tetapi perubahan itu akan datang apabila kita istiqamah dalam berjuang. Hidup akan berarti apabila diisi dengan perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: