Hubungan Seks dalam pacaran? Sudah biasa atau dipaksakan?

Gaya pacaran remaja saat ini memang sudah jauh berbeda dengan masa dulu, kalau remaja masa dulu berpacaran saja malu apalagi harus ketahuan orang lain. Sebagian remaja masa kini menganggap bahwa hubungan seks pada masa pacaran adalah hal biasa dan wajar dilakukan.

Mengenai perilaku seperti ini kita tidak bisa hanya menyalahkan remaja saja, tetapi faktor lain seperti orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh pada gaya pacaran remaja kita saat ini.

Remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar, termasuk pada informasi mengenai seksualitas, namun sebagian orang tua dan lingkungan masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah ini. Sehingga remaja cenderung mencari informasi tanpa ada yang mengarahkan atau membimbing.

Oleh karena itu sudah saatnyalah orang tua menjadi mitra bagi kawula muda untuk saling berdiskusi mengenai berbagai hal termasuk masalah seksualitas, sehingga ada kontrol dari orang tua maupun lingkungan.

Karena aku mencintaimu

Persepsi tentang cinta yang mengarah pada keadaan saling memberi dan saling menerima menyumbang peran besar pada remaja untuk melakukan seks pra nikah. Seolah-olah, dalam mencintai seseorang harus memberikan sesuatu untuk membahagiakan orang yang dicintai (meski sesungguhnya memang begitu seharusnya). Namun, pada kenyataannya, “memberi” disini dilakukan – mungkin – karena tujuan dan sebab tertentu. Bisa jadi karena seorang perempuan tidak ingin kehilangan pasangannya. Bisa juga karena sebuah alasan yang konyol sebenarnya, memperkuat rasa cinta. Pada akhirnya seks pra nikah dilakukan dengan mengatasnamakan cinta (bagi sebagian orang). Dalam kejadian ini, sudah sulit dibedakan antara cinta dan syahwat. Entah mungkin karena pergeseran nilai budaya, atau mungkin memang akhlak manusia yang sekarang mulai membinatang.

Menurut saya, sebenarnya perilaku seksual pra nikah tidak salah jika terjadi pada remaja karena tugas perkembangan remaja itu sendiri salah satunya adalah membina hubungan heteroseksual. Perilaku seksual juga merupakan pilihan setiap individu, apakah dia mau melakukanya atau tidak dan yang menjadi permasalahan saat ini adalah apakah remaja yang memilih melakukan perilaku seksual pra nikah itu dapat melakukannya dengan bertanggung jawab dan juga sehat?

Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seksual antara lain perkembangan teknologi yang menyediakan berbagai informasi dan salah satunya mengenai seksualitas. Informasi tersebut dapat dengan mudah diakses walaupun kadang tidak tepat. Informasi yang tidak tepat tersebut bisa berupa video-video dan cerita erotis yang malah menimbulkan hasrat seksual yang tinggi sehingga remaja membutuhkan penyaluran. Penyaluran itu sendiri tidak dapat dilakukan dengan benar karena remaja belum menikah, tetapi pernikahan pada remaja juga belum bisa dilakukan karena banyak syarat untuk menikah. Sehingga jalan satu-satunya yang ditempuh adalah menyalurkan kepada pasanganya yang dalam hal ini adalah pacar atau pekerja seks komersil.

Hal lain yang menjadi faktor penyebab perilaku seksual adalah harga diri yang dimiliki seorang remaja tersebut. Harga diri mempengaruhi kontrol diri seseorang. apakah seorang remaja dapat mengontrol diri untuk berperilaku seksual atau tidak adalah tergantung harga diri yang dimilikinya. ketrampilan berkomunikasi, menyampaikan pendapat secara asertif dan menentukan keputusan juga dipengaruhi harga diri. Remaja yang mempunyai harga diri tinggi dapat mengkomunikasikan batasan-batasan hal yang boleh dilakukan atau tidak, dapat menyampaikan pendapat yang sesuai dengan prinsip yang dianut dan dapat menentukan keputusan yang sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Sehingga pada remaja berharga diri tinggi tahapan perilaku seksual yang dilakukan bisa lebih rendah dari pada remaja berharga diri rendah dan sedang.

Banyak juga kejadian remaja berperilaku seksual karena dipaksa pasanganya (terutama perempuan) ataupun sengan alasan cinta, tetapi hal itu tidak akan terjadi jika remaja itu mempunyai harga diri tinggi karena dia bisa menentukan keputusan sendiri tentang pilihan dan pendapatnya. bisa juga perilaku seksual bertambah marak karena mencontoh perilaku seksual yang sudah ada dan menganggap wajar seperti berpegangan tangan, merangkul, memeluk dan mencium bahkan banyak remaja yang sudah melakukan hubungan seksual dan menyetujui seks bebas.

Faktor lain bisa berupa tingkat pendidikan, pola asuh orang tua, nilai religiusitas yang dianut,

Bagaimanapun itu, perilaku seksual pra nikah ini merupakan hal yang harus benar-benar disikapi secara tepat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehamilan diluar nikah, PMS, aborsi dan bahkan bisa membawa ke arah kematian.

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    Elfizon Anwar said,

    Benar kata orang bijak, jika ada satu orang laki-laki dengan satu orang perempuan, bukan suami isteri, maka yang satu lagi adalah ‘syaitan’.

  2. 3

    roni336 said,

    Itulah salah satu tanda bahwa kiamat sudah semakin dekat, yaitu perzinaan akan semakin banyak, dilakukan secara terbuka, dan tanpa rasa malu.

    Bicara soal solusi, sebenarnya Islam telah menjawab permasalahan ini sejak 14 abad silam. Dalam Islam, urusan hubungan / komunikasi dengan lawan jenis telah diatur sangat ketat. Ibaratnya diujung jalan ada jurang, maka jauh2 sebelumnya sudah dipasang rambu2 agar tidak mendekat.
    Misalnya dengan adanya konsep aurat, muhrim, pernikahan, dll. Juga konsekwensi terhadap pelanggaran aturan2 tersebut keras dan tegas. Fungsinya adalah untuk memberi efek jera pada pelakunya dan mencegah orang lain melakukan pelanggaran yang sama.

    Untuk urusan zina ini Islam telah mengatur sanksi terhadap pelanggaran ini yaitu dihukum cambuk bila pelakunya belum menikah, dan hukum rajam bila pelakunya telah menikah. Tapi harap diingat, bahwa menuduh orang lain berzina itu syaratnya sangat berat. Jadi tidak bisa sembarangan orang menuduh dan sembarangan hukuman rajam dijatuhkan. Kenyataannya, dalam sejarah Nabi Muhammad, beliau menghukum rajam kepada pelaku zina (kalau tidak salah) hanya satu kali. Itupun atas desakan permintaan pelakunya sendiri.

    Makanya saya juga tidak habis pikir. Di satu sisi orang prihatin dengan sex bebas di kalangan remaja, disisi lain orang ribut menentang RUU pornografi yang tujuannya antara lain menurunkan angka sex bebas dengan mengatur cara berpakaian dan bertingkah laku secara sopan.

    Bagaimana pendapat anda?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: