Remaja Asia

JADI remaja atau kaum muda (yang belum menikah) sekarang ini memang enggak gampang. Godaannya banyak sekali. Bayangin aja, bagaimana mudahnya kita mendapatkan VCD porno, misalnya. VCD tentang hubungan seks dua mahasiswa Bandung yang tersebar luas dalam waktu sangat singkat. Bahkan ada yang menyebarkannya lewat Internet. Ini membuktikan betapa gampangnya “rangsangan” semacam itu kita peroleh. Belum lagi rangsangan-rangsangan dari sesama temen dan dari media dalam berbagai bentuk, seperti tabloid, koran, majalah, atau sinetron di televisi. Padahal kita semua tahu, usia perkawinan di kalangan kaum muda makin meningkat akibat makin lamanya waktu bersekolah.

Belum lagi jika kita setelah lulus dari sekolah atau universitas masih harus bekerja dulu sebelum menikah. Akibatnya, jarak antara masa pubertas hingga perkawinan makin panjang saja, sementara kita sudah berada pada keadaan seksual aktif. Tentu sulit, bahkan mustahil dan tidak fair untuk meminta kaum muda semuanya harus alim-alim.
Situasi sulit ini tidak hanya dialami oleh remaja dan kaum muda Indonesia, lho, tetapi juga di berbagai negara di Asia.
Dr Peter Xenos dari East-West Center, Hawaii, AS, menyatakan bahwa saat ini di berbagai negara Asia terjadi situasi “pembengkakan jumlah kaum muda” (youth bulge), mirip dengan baby boom atau kelahiran banyak bayi di AS sesudah Perang Dunia II.

Penyebab youth bulge di Asia adalah menurunnya tingkat kelahiran dan kematian bayi selama satu-dua dekade terakhir. Tertundanya perkawinan dan lebih lamanya masa pendidikan telah memperpanjang periode remaja/muda (adolescence) yaitu dari pubertas hingga perkawinan sampai delapan-sembilan tahun atau bahkan lebih lama lagi.
PADA saat membikin tulisan ini kami sedang berada di Taipei, Taiwan, untuk mengikuti sebuah Konferensi Internasional “Kaum Remaja/Muda Asia dalam Risiko: Tantangan Sosial, Kesehatan, dan Kebijakan” yang disponsori oleh East-West Center, tanggal 26-29 November 2001.

Konferensi yang diikuti oleh hampir 100 peserta dari 16 negara ini melibatkan para peneliti tingkat internasional, para program manager untuk kesehatan reproduksi remaja, baik dari pemerintah maupun LSM, serta para wartawan dari enam negara.

Tujuan dari seminar ini adalah menyebarluaskan hasil penelitian yang dilakukan oleh sebuah proyek yang bernama AYARR (Asian Young Adult Reproduction Risk) yang dilakukan di beberapa negara seperti Indonesia, Hongkong, Nepal, Filipina, Taiwan, serta Thailand. Disampaikan juga berbagai penelitian lain mengenai remaja yang dilakukan oleh belasan negara lain di Asia.

Semua negara peserta mengakui bahwa remaja merupakan kelompok masyarakat yang sangat penting, karena mereka merupakan aset bangsa yang memberikan gambaran bagaimana keadaan negara tersebut pada masa yang akan datang.
DI Indonesia, jumlah remaja usia 10 sampai 19 tahun merupakan 21 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Dari berbagai penelitian yang disampaikan oleh wakil peneliti dari negara masing-masing sebenarnya bisa dilihat bahwa remaja di dunia memang sedang berada dalam risiko yang tinggi berkaitan dengan perilaku seksualnya. Belum lagi risiko kesehatan yang disebabkan oleh alkohol, rokok, narkotika/psikotropika, hingga kebut-kebutan dengan sepeda motor.
Masalah-masalah yang bisa disebut sebagai berisiko tinggi, seperti narkotika/psikotropika, hubungan seks sebelum menikah, serta kehamilan pada usia dini, banyak dihadapi oleh remaja di seluruh dunia dengan berbagai sebab yang sebenarnya serupa, yaitu akses terhadap napza dan pornografi yang gampang didapat, pengaruh/tekanan teman, serta norma sosial yang mulai longgar.

Ada juga yang menambahkan bahwa dipercepatnya awal masa pubertas, remaja menjadi lebih cepet gede atau kepingin dibilang sudah dewasa, membuat kaum remaja mulai melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk hubungan seks, merokok, minum-minuman beralkohol, dan lain-lain.

Oleh karena, masa remaja selalu diisi dengan upaya mencari jati diri, maka pada masa ini proses tersebut adalah sangat penting. Cuman masalahnya kita bisa saja kepeleset karena ketidaktahuan. Ini bisa dicegah atau dikurangi jika makin banyak informasi yang akrab dengan bahasa anak muda, juga sarana-sarana lain yang bisa membantu mencarikan jalan keluar bagi mereka yang telanjur kena masalah. Contohnya adalah hotline service atau klinik kesehatan reproduksi remaja seperti yang dijalankan PKBI di Jakarta maupun berbagai ibu kota provinsi.

Ambil saja contoh di Korea, angka kehamilan yang tidak dikehendaki di kalangan remaja semakin tinggi dan aborsi terus meningkat. Dari penelitian yang dilakukan di sana, ternyata antara cowok dan cewek memiliki sumber informasi tentang seksualitas dari media yang berbeda. Cewek lebih banyak mendapatkan informasi tentang seksualitas dari televisi dan teman. Sedangkan cowok rata-rata belajar tentang seksualitas melalui film, komik, majalah/film porno, serta Internet. Cowok lebih banyak melakukan hubungan seks sebelum menikah dibandingkan cewek (cowok 33 persen, cewek 13 persen).

Di Myanmar lebih parah lagi, melakukan hubungan seks sebelum menikah makin dianggap wajar di kalangan remaja. Hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa sekarang ini rata-rata usia menikah diperpanjang, jadi banyak yang memilih menikah pada usia lebih tua, dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Berarti masa di mana mereka seharusnya menunda hubungan seksualnya semakin panjang, dan banyak yang enggak kuat sehingga akhirnya mereka ngelakuin juga. Di India 20-30 persen remaja usia 10-19 tahun sudah berani melakukan hubungan seksual. Hal ini menyebabkan munculnya keadaan di mana satu dari enam cewek usia 17-19 tahun hamil sebelum nikah.
BAGAIMANA dengan remaja dan kaum muda Indonesia? Belum ada survei nasional untuk hal satu ini. Yang ada baru survei di beberapa kota.

Dr Eddy Hasmi, Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi BKKBN dalam makalahnya di Taipei mengutip penelitian psikiater Prof Dadang Hawari tahun 1994 bahwa 21,8 persen remaja di Bandung, 30,9 persen di Bogor, dan 26,5 persen di Sukabumi telah melakukan hubungan seks premarital.

Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta juga melaporkan 28,8 persen pasangan yang baru saja nikah telah melakukan hubungan seks sebelum mereka nikah. Angka-angka ini mungkin dapat menunjukkan bahwa remaja dan kaum muda Indonesia tidak lebih alim, lho, dibanding teman-teman kalian di negara-negara Asia lain.
Dari salah satu penelitian yang dilakukan di Filipina, ditemukan ada beberapa faktor yang cukup penting yang dapat menghambat remaja melakukan perilaku berisiko, yaitu:
– Kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap perilaku negatif tersebut berdasarkan norma yang berlaku.
– Hubungan yang dekat dengan orangtua
– Nilai agama yang kuat

Hubungan dengan ortu ternyata memang memegang peranan penting untuk mencegah remaja melakukan perilaku berisiko. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang dimiliki remaja untuk menangkal berbagai pengaruh negatif di luar rumah dibentuk dan diperkuat di dalam keluarga melalui didikan orangtua.

Jadi, dengan arus informasi secara global yang tidak terbendung lagi yang membanjiri remaja, maka peran ortu menjadi sangat besar untuk memberikan informasi tandingan sehingga remaja jadi punya pilihan dan tidak terjebak pada informasi menyesatkan mengenai seksualitas.

KONFERENSI di Taipei juga banyak membahas soal godaan bagi para remaja untuk merokok dan minum minuman keras yang secara sistematis dan amat pinter dilakukan oleh industri rokok dan minuman keras.
Merokok dan minum minuman beralkohol diiklankan dan dipromosikan sebagai gaya hidup yang keren dan macho. Bung-on Ritthiphakdee dari LSM ThaiHealth menunjukkan bukti-bukti bagaimana perusahaan rokok dan minuman keras multinasional (terutama asal AS) memakai role-model seperti bintang film Sylvester Stallone, petenis Michael Chang dan Pete Sampras, serta bintang sinetron idola remaja Thailand untuk membujuk anak-anak muda di sana untuk jadi perokok dan peminum pada usia di bawah 18 tahun.

Hal yang sama terjadi juga di Indonesia. Ingat saja apa yang dilakukan oleh sebuah merek rokok dengan promosi hura-huranya yang seronok dan mengeksploitasi seksualitas kaum muda di berbagai kota besar di Pulau Jawa.
Keadaan ini diakui oleh Kent Klindera dari Amerika yang juga aktivis LSM Advocate For Youth di Washington DC, “Saya malu jadi orang Amerika karena kelakuan industri rokok dan minuman keras AS begitu agresif di Asia. Tapi, ada resep yang telah dilakukan oleh kaum remaja di Florida dan berhasil menekan angka merokok dapat ditiru oleh remaja di Asia. Caranya adalah bukan bilang bahwa rokok itu berbahaya, tapi harus dikampanyekan bahwa kaum remaja adalah target pemasaran, dan mereka harus diumpak bahwa mereka cukup pintar untuk tidak mau dibodohin pabrik rokok.”

Memang peran serta remaja sendiri dalam menentukan apa yang mereka butuhkan dan yang bisa mereka sumbangkan untuk mencapai kondisi kesehatan reproduksi remaja yang semakin baik sangatlah diperlukan. Sayangnya yang terjadi sekarang tidak banyak remaja ikut ambil bagian dalam proses perencanaan program, pengambilan keputusan dan ikut memikirkan apa yang terbaik buat mereka. Bagaimana menjadikan remaja sebagai subyek daripada sekadar obyek merupakan tantangan yang harus dipikirkan.

Jika hal ini dapat terwujud di Indonesia, maka seperti dikatakan seorang pakar di Taipei, masa remaja seharusnya adalah masa yang menyenangkan, bukan masa yang menyusahkan, bagi kamu-kamu sendiri, bagi ortu, sekolah dan bagi lingkungan sekitar kalian.

(Guntoro Utamadi, PKBI Pusat/Irwan Julianto, dari Taipei, Taiwan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: