I LOVE MY SMOKE FREE CHILDHOOD

Bertepatan dengan hari kanker sedunia—yang pada 2008 bertema “I love My Smoke Free Childhood–, Yayasan Kanker Indonesia menggelar kampanye “Udara bebas asap rokok bagi anak Indonesia” pada Senin (4/1) lalu. Kampanye itu didukung LSM, guru, selebritis, dokter, perawat, anak sekolah, dan lain-lain. Petisi pun dikemukakan, isinya mengajak semua masyarakat termasuk para pemimpin untuk menjauhi rokok. Ini juga sebagai bentuk keprihatinan, akibat tinggi-nya angka merokok di kalangan anak dan remaja. Berdasarkan data pada 2002, jumlah perokok di usia 5-19 tahun meningkat sekitar 471% dalam 3 tahun (periode antara 2001 hingga 2004). Lalu pada 2006, lebih dari 1 dari 10 (12,6%) pelajar merokok. Sebuah angka yang mengkhawatirkan.

Di mana-mana orang merokok, di mobil mewah berharga milyaran, di angkutan umum yang sumpek, gedung mewah, gubuk reyot, lift, tempat ibadah, ruangan dingin ber-AC, tak terkecuali rumah sakit. Bahkan, nakita sendiri pernah memergoki dua orang dokter anak merokok di tempat praktiknya di rumah sakit pemerintah. Kepulan asap dengan jumlah racun sekitar 4000 jenis itu memenuhi ruangan, yang di pagi hari biasanya digunakan sebagai tempat konsultasi. Ironisnya lagi, salah satunya kerap dijadikan narasumber dalam artikel tentang bahaya merokok. Jangankan permintaan maaf, perasaan bersalah pun tak tampak pada wajah mereka. “Emang kenapa kalau merokok?“ Begitu tanya balik mereka. Jika sosok intelek berjas putih dan bersih ini tidak peduli, maka bisa dibayangkan dengan anak atau remaja yang pengetahuan kesehatannya terbatas.

Bahaya akibat merokok sudah gencar disebarluaskan. Termasuk di setiap kemasan rokok. Bahkan di kota-kota besar, bahaya merokok ditulis besar-besar di papan reklame seukuran lapangan basket. “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.” Setiap hari jutaan anak melewati dan membaca papan reklame tersebut. Tapi apakah sebagian besar mereka terpengaruh iklan tersebut? Tidak juga. Jumlah perokok semakin hari semakin bertambah. Bahkan Indonesia diberi “kehormatan” karena menduduki peringkat tertinggi dalam jumlah perokok remaja. Tidak kurang dari 13,2 % remaja di Indonesia adalah perokok aktif.

Padahal seperti yang tertulis di kemasan, penyakit yang diakibatkan perilaku merokok sangat menyeramkan. Asap yang diembuskan ke udara tidak hilang begitu saja. Jika diisap, asap itu akan menyelinap dan memasuki lorong paru-paru, lalu menempel dan merusak organ vital tersebut, sehingga menyebabkan kanker. Sebuah penyakit yang menyebabkan 28% kematian bagi para penderitanya. Jika terbebas dari kanker itu, jangan senang dulu, karena beberapa penyakit lain telah siap menunggu. Ada kanker mulut dan lidah, kanker tenggorokan, dan kanker lainnya. Pada anak, asap itu akan memasuki saluran pernapasan dan menghancurkan beberapa epitel yang bertugas menyapu kotoran. Celakanya lagi, epitel rusak tersebut dapat diisi oleh kuman, bakteri, zat alergen, maupun bibit penyakit lain, sehingga menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada anak. Masih banyak penyakit lain yang tidak dapat dirinci satu per satu.

DARI DIRI SENDIRI DAN KELUARGA

Hal pertama yang diimbau pada kampanye tahun ini adalah keteladanan. Artinya, budaya menjauhi rokok harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Jangan menyalahkan orang lain, tapi mulai dengan diri sendiri. Orangtua memegang peranan penting dalam memberantas penyebaran rokok pada anak-anaknya. Itu juga berlaku buat para pemimpin, harus berupaya keras menjadi contoh bagaimana menjauhi rokok. Tidak cuma itu. Sejak dini, pada anak harus ditanamkan, rokok adalah benda berbahaya yang harus dijauhi. Dengan demikian, anak tidak terdorong menjadi perokok saat dewasa kelak. Pemerintah juga diharapkan tegas dalam menertibkan undang-undang berisi larangan merokok bagi anak di bawah 18 tahun.

Program ini sudah mulai digelar, baik di sekolah maupun di rumah. Di sekolah, guru sudah memasang spanduk, meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan khusus, pun memberikan teguran bagi si perokok. Itu tidak hanya berlaku buat guru dan siswa, tapi juga semua orang yang berada di sekolah. Mereka berharap, sekolah sebagai tempat steril bagi rokok. Namun, program itu belum dapat dikatakan mantap. Ini karena banyak guru dan siswa sekolah yang menyempatkan merokok di tempat lain, tentu di luar area sekolah. Kantin terdekat, warung, bahkan taman yang dekat dengan lokasi sekolah. Dengan demikian, kampanye ini sebaiknya tidak hanya memberikan penyuluhan, tapi juga membangkitkan motivasi bagi anak untuk menjauhi sepanjang sembilan senti tersebut.

Penyuluhan di sekolah saja tidak cukup, di rumah orangtua harus melakukan hal sama. Ini karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

a. Sedapat mungkin, hindari memperlihatkan perilaku merokok di depan anak.

b. Jangan sekali-kali merokok di dalam rumah. Ini berlaku buat siapa saja, termasuk supir atau tamu. Minta mereka dengan sopan untuk merokok di luar, misal mengalihkan tempat percakapan di gazebo, taman di depan rumah, atau tempat lainnya. Dengan demikian, ruangan di rumah bebas dari asap yang kaya racun.

c. Atau jika terpaksa, buka pintu dan jendela, nyalakan exhaust van, sehingga asap rokok dapat langsung keluar ruangan.

d. Tanamkan sejak dini, rokok harus dijauhi. Cari media efektif untuk menyampaikannya, misal, lewat dongeng, cerita, buku tentang bahaya rokok, dan film.

e. Bantu anggota keluarga lain untuk berhenti merokok. Termasuk, adik, ayah, dan suami/istri.

f. Tidak disarankan untuk merokok di dalam mobil. Meski semua asap telah keluar lewat jendela, masih banyak zat berbahaya yang tertinggal di jok, dan area mobil. Zat beracun itu tinggal menunggu diisap anak dan anggota keluarga yang lain.

g. Jangan segan untuk menegur perokok di tempat umum. Terlebih di lift, angkutan umum, atau ruangan ber-AC. Mereka perlu diberi tahu, merokok membuat orang lain terganggu.

h. Cari restoran atau bar dengan sirkulasi udara bagus. Jika tidak, tempatkan anak di area bebas rokok.

i. Hal yang terpenting, orangtua harus menjadi teladan. Jika saat ini tidak merokok, jangan coba-coba merokok. Ini karena kebiasaan merokok dapat memengaruhi perilaku anggota keluarga yang lain. Berdasarkan penelitian, 70% perokok di Indonesia memulai kebiasaannya sebelum usia 19 tahun, karena terbiasa melihat anggota keluarganya yang merokok. Jika sudah telanjur merokok, berusahalah untuk berhenti merokok. Hal yang terpenting adalah tekad dan motivasi. Jika keduanya kuat, maka cara apa pun dapat efektif menghentikan seseorang untuk merokok.

j. Selektif dalam memilih teman. Ini karena pengaruh merokok boleh jadi didapat dari temannya. Anak-anak dan remaja tidak memiliki kemampuan untuk memahami secara penuh dampak kesehatan produk tembakau dan sifat nikotin yang adiktif.

DUKUNGAN BERBAGAI PIHAK

Secara nasional, keberhasilan program ini sangat tergantung pada dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Jika tidak, kampanye seperti ini bak menggantang asap. Masih ingat kan dengan perda rokok yang dikeluarkan Pemda DKI beberapa tahun lalu. Awalnya program ini berjalan mulus, perokok sembarangan langsung dijatuhi sanksi, semua tempat umum termasuk mal berlomba-lomba menyediakan tempat merokok, dan publikasi yang gencar tentang antirokok. Namun program itu bak bom, yang meledak dengan keras di permulaan, lalu berganti dengan suara sunyi senyap kemudian. Karena beberapa bulan kemudian, orang-orang bebas mempertontonkan perilaku merokok. Termasuk para pegawai negeri sipil yang harusnya menjadi teladan terdepan, malah secara terang-terangan menunjukkan benda berwarna putih tersebut kepada wartawan yang direkam salah sebuah stasiun televisi. Tragisnya lagi, beberapa institusi yang bertujuan menyadarkan perokok, justru tutup. Di saat jumlah perokok terus menjamur, Klinik Berhenti Merokok justru menghentikan operasinya. Tidak ada alasan pasti mengapa klinik itu tutup. Hal yang jelas, ini menampar masyarakat yang sudah geram dengan peredaran rokok yang menyesakkan dada.

Patutkah kita menyerah? Tidak juga. Karena dalam skala lebih kecil, kita bisa menyukseskan kampanye bebas asap bagi anak dan anggota keluarga kita. Mulailah kampanye kepada diri sendiri dan anggota keluarga. Jadikan rumah kita sebagai tempat pertama yang bebas asap rokok.

Meminjam istilah penyair Taufik Ismail, rokok seolah menjadi “tuhan” baru bagi masyarakat Indonesia; surga bagi para perokok, sekaligus neraka bagi orang-orang tak merokok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: