Pembantu di Singapura

Sekitar 170,000 migran perempuan bekerja di Singapura sebagai PRT-migran, pekerja rumah tangga migran, atau pembantu. Sebagian besar kelompok PRT-migran ini berasal dari Indonesia, Filipina dan Sri Lanka. Secara umum, mereka bertanggung jawab membersihkan rumah, memasak, dan menjaga anak-anak atau orang tua, yang dimiliki majikannya. Di antara 4,5 juta penduduk Singapura, sekitar 1 dari 6 keluarga Singapura mempunyai PRT-migran.

Secara umum, gaji PRT-migran tergantung pengalaman dan ketrampilannya. Sebagian besar PRT-migran mendapat sekitar S$200 sampai S$350 (Rp1,36 juta sampai Rp2,38 juta) per bulan. PRT-migran yang sudah bekerja beberapa tahun di Singapura dan bisa berbahasa Inggris biasanya bisa mendapat lebih dari S$500 atau S$600 (Rp3,4 juta sampai Rp4 juta) per bulan. Banyak PRT-migran mengirim kembali gajinya ke keluarga, untuk biaya membesarkan atau menyekolahkan anaknya, menjaga orang tuanya, dan lain-lain.

Salah satu contoh adalah cerita PRT-migran lama keluarga saya, Sue, seorang perempuan dari Surabaya. Dia bercerita bahwa mantan suaminya memukul dia dan tiga anaknya, sebelum suaminya becerai dengan dia dan menikah dengan perempuan lain. Sesudah perceraian itu, Sue pulang ke rumah orang tua, dan memutuskan ke Singapura supaya mendapat uang untuk mendukung keluarganya. Dia bekerja dengan keluarga saya selama 6 tahun, tapi akhirnya pulang karena ayahnya meninggal. Ketika dia pulang, dia dan keluarganya sudah menyimpan cukup uang untuk memulai bisnis kecil di Surabaya.

Tentu saja, tidak semua PRT-migran di Singapura mempunyai pengalaman baik. Setiap tahun Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) Singapura menerima banyak laporan keluhan dari PRT-migran yang diperlakukan dengan tidak baik oleh majikan. Kasus pemerkosaan lebih jarang. Lebih sering, keluhan para PRT-migran tentang majikan yang menolak memberikan gajinya, mengurung PRT-migrannya di rumah, atau melakukan kekerasan emosional dan fisik. PRT-migran juga mengeluh tentang agen tenaga kerja yang meminta bayaran berlebihan, salah memberikan informasi atau mengancam mereka secara lisan.

Misalnya, keluarga saya sekarang memperkerjakan seorang PRT-migran Filipina bernama Shirley. Pada tahun 2003, Shirley, 22 tahun, diminta oleh keluarganya ke Singapura bekerja sebagai PRT. Waktu itu, kakak perempuannya sudah bekerja sebagai PRT di Singapura, tapi kakaknya ingin pulang untuk menikah. Jadi, Shirley berhenti sekolah, dan pergi ke Singapura. Sesudah dia datang di Singapura, dia ditugaskan ke keluarga tertentu, di mana neneknya selalu memarahi dia, mencubit dia, dan menyakiti dia secara lisan. Shirley sering dihina dan dikata-katai “bodoh” atau “dungu”, dan sering disalahkan untuk apa pun, seperti lantainya tidak cukup bersih, sopnya tidak cukup panas atau terlalu panas …

Akhirnya, Shirley tidak bisa tahan situasi itu lagi, dan meminta pindah kepada agennya. Waktu itu, keluarga saya mencari pembantu baru karena Sue mau pulang. Jadi, kami memperkerjakan Shirley. Ketika Shirley datang di rumah saya, walaupun tidak perlu, dia selalu minta maaf atas apa pun. Shirley juga bercerita kepada Sue tentang pengalamannya, dan dari cerita itulah, kami mengetahui bahwa Shirley sudah menjanjikan 4 sampai 6 bulan gajinya pada agen. Sebetulnya, menurut Sue, PRT-migran biasanya hanya membayar 1 sampai 3 bulan gaji pada agen untuk biaya pindah. Kadang-kadang, majikan juga bersedia menanggung biaya pindah.

Cerita Shirley menekankan bahwa banyak majikan yang dikeluhan PRT-migran adalah orang tua, dari generasi tua. Mereka masih sering mempunyai prasangka lama, seperti PRT atau pembantu sebagai barang, atau orang dari tingkatan paling bawah, kurang bernilai daripada orang biasa. Cerita Shirley juga membuktikan bahwa agen-agen yang meminta pembayaran berlebihan masih merupakan masalah di industri PRT-migran.

Untuk mengatasi masalah-masalah ini, pemerintah Singapura sudah mengadakan perubahan kebijakan selama tahun-tahun terakhir ini:

  • Sejak April 2004 semua orang yang baru pertama kali menjadi majikan harus menghadiri program khusus, supaya mereka dididik bagaimana menjalin hubungan baik dengan PRT, dan kewajiban atas kesejahteraan PRT.
  • Sejak waktu itu pula, semua PRT-migran baru harus menghadiri kursus keselamatan dasar dalam bahasa ibu mereka (misalnya, Bahasa Tagalog, Bahasa Indonesia, Bahasa Tamil, dan lain-lain), dengan topik-topik seperti keselamatan di rumah susun karena banyak PRT-migran berasal dari desa, dan mungkin tidak pernah tinggal di rumah susun.
  • Sejak Januari 2005, usia minimum untuk PRT-migran di Singapura dinaikkan dari 18 tahun ke 23 tahun; dan semua PRT-migran di Singapura juga harus sudah berpendidikan paling tidak 8 tahun.
  • PRT-migran di Singapura sekarang juga harus melakukan ujian dasar ketrampilan bahasa dan berhitung. Ujian ini ditujukan untuk meningkatkan kematangan dan mutu PRT-migran di Singapura.

Biasanya, PRT-migran yang mengalami masalah emosional di Singapura, seperti rasa rindu, kesepian atau depresi berusia lebih muda, dan mungkin juga pertama kali mereka hidup di luar kampung, di luar negeri dan di situasi, kota dan budaya baru.

Perubahan ini juga membantu lebih banyak PRT-migran mengerti hak dan kewajibannya menurut hukum Singapura.

  • Depnaker Singapura menerbitkan surat-surat setiap 6 bulan, tentang hak, kewajiban dan kesejahteraan PRT, baik untuk PRT-migran dalam bahasa ibu mereka, maupun untuk majikan.
  • Depnaker juga melakukan wawancara secara acak dengan PRT-migran baru dalam beberapa bulan pertamanya di Singapura, memeriksa mereka bagaimana beradaptasi dengan kehidupan di Singapura. Depnaker sekarang mempunyai “hotline” untuk masalah PRT-migran, dan bagian khusus untuk masalah PRT-migran.
  • Pemerintah Singapura juga memperberat hukuman untuk majikan yang menolak memberikan gaji PRT-migran, atau menyalahgunakan PRT-migrannya; dan mengetatkan peraturan tentang biro penyalur tenaga kerja PRT-migran. Sistem akreditasi, di mana biro PRT-migran harus disahkan, juga diketatkan.

Akhirnya, Singapura masih mempunyai masalah dengan PRT-migran, khususnya dengan sikap majikan. Tetapi, kami mengharapkan sikap itu bisa diubah dengan pendidikan dan kampanye kesadaran masyarakat, supaya kedua pihak bisa saling membantu dan bekerja sama dengan senang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: