Cerita Vina

Boleh dikata saya ini memang pacar yang nggak pernah ngerti perasaan pasangan sendiri. Rony yang sudah sejak setengah bulan lalu mengisi kekosongan saya ternyata masih belum bisa membuat tabiat buruk saya sebagai gadis tomboy berubah. Saya yang punya teman mayoritas laki-laki dari pada perempuan ternyata membuat Rony cemburu. Bagaimana tidak, waktu luang yang saya habiskan justru lebih banyak bersama mereka, sedangkan Rony yang selalu setia saat saya perlukan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Hendra dan Runa adalah sahabat saya yang selalu ingin menemani saya dimanapun berada, tentunya tidak saat saya bersama Rony. Kepribadian mereka yang sama dengan saya membuat kami selalu kompak dalam berbagai hal, dan lagi-lagi itu membuat Rony semakin cemburu.
“ Saya nggak suka kamu sering-sering bersama mereka.” Ungkap Rony jujur membuat saya sangat terkejut.
Rony memang punya hak untuk melarang saya untuk tidak selalu menemani Hendra maupun Runa, tapi kejujuran Rony membuat saya sedikit syock Saya sudah terlanjur menyayangi mereka, walaupun itu bukan berarti saya menyukai keduanya.
“ Saya nggak bisa, mereka itu sahabat saya. Konsekuensinya kan kamu sudah tahu, persahabatan saya dengan mereka itu sangat penting bagi saya.” Balas saya sengit.
Tampaknya Rony juga terkejut mendengar apa yang barusan saya katakan, ia memegang tangan saya erat. Tatapannya sendu seolah berkata aku mohon Fina.
“ Yang saya tahu kamu lebih memperhatikan mereka daripada saya. Bukannya saya egois, tapi perlakuan kamu itu tidak adil.” Ujarnya memelas.
Apakah saya memang sejahat itu, sehingga Rony memohon dengan teramat sangat agar saya bisa berlaku adil? Saya tak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas ini terlalu mendadak buat saya.
Rony melepaskan tangan saya kemudian menjauh pergi dengan tertunduk lesu.
Ia berbalik, kemudian berkata sambil tersenyum kecut.
“ Saya sudah tahu jawaban kamu Fin.”
Kali ini penuturan Rony membuat saya trenyuh, perih hati saya mendengarnya. Saya sangat menyukai Rony, tapi tidak bisa membuatnya bahagia. Padahal ia begitu mencintai saya, ia pengertian, dan terlalu baik buat saya.
***
“ Kok kamu lesu gitu, ada masalah ya?” tanya Hendra membuyarkan lamunan saya.
Saya menggeleng lemah, mereka tidak boleh tahu masalah saya. Karena ini berhubungan dengan mereka.
Runa menghampiri saya kemudian menyerahkan dua kaleng minuman kepada saya dan Hendra.” Akhir-akhir ini kamu jarang ketumu Rony, lagi marahan ya?” tanya Runa penasaran.
Saya menggeleng untuk yang kedua kalinya.
“ Nggak ada masalah apa-apa. Saya Cuma lagi nggak enak badan.” Ujar saya berbohong.
“ Gitu, tapi Rony kenapa nggak pernah nyamperin kamu lagi?” Hendra menatap saya lekat-lekat seolah ingin menemukan sendiri jawaban dari mata saya.
“ Dia lagi sibuk.” Jawab saya singkat. Saya berdiri meninggalkan mereka yang masih penasaran ingin mendengar alasan saya. Saya menuju perpustakaan untuk menenangkan diri, duduk menyendiri di pojok ruangan lalu membaca buku. Rasanya tidak ada yang masuk di otak saya, bayangan Rony selalu berputar di otak ini, sambil berkata “ Saya nggak suka kamu sering-sering bersama mereka.”
Sudah seminggu berlalu sejak pertemuan terakhir itu, dan Rony sudah tidak pernah lagi terlihat oleh saya, ia seolah menjauhkan diri. Setiap kali saya datang ke kelasnya ia tak pernah ada. Walaupun setiap kali pelajaran dimulai ia tak pernah absen, tapi saat istirahat tiba ia seolah menghilang, kemudian muncul lagi saat bel masuk berbunyi.
“ Hai Fin. Tumben kamu datang ke sini, bukannya kamu itu anti banget baca buku di perpustakaan?” tanya seseorang mengagetkan lamunan saya. Saya berbalik, Monika sahabat saya yang paling ceriwis itu memang selalu ada di mana-mana, di kantin, koperasi, atau di perpustakaan sekalipun dia selalu menjadi tempat faforitnya untuk mengumbar gosip.
“ Nggak ada Undang-Undang yang larang saya untuk ke sini kan?” tanya saya balik.
Monika tersenyum, kemudian mengangguk pelan.
“ Emang nggak ada, Cuma aneh aja sih. Ngomong-ngomong, bodyguard mu pada kemana sih, kok nggak kelihatan?” Monika clingak-clinguk ingin menemukan sosok Hendra dan Runa yang biasanya selalu bersama saya. “ Kayaknya nggak seru aja kalau mereka berdua itu nggak ada.” Lanjutnya.
“ Mereka di kelas, saya sengaja nggak sama-sama mereka, pengen refresing aja.” Jawab saya tanpa mengalihkan pandangan dari novel di hadapan saya.
“ Jadi kamu merasa nggak nyaman setiap kali bersama mereka? Sampai-sampai pengen refresing segala.”
“ Bukan begitu, saya Cuma nggak pengen mereka tahu masalah saya, makanya saya menjauh.” Entah kenapa saya ingin menceritakan semua masalah saya pada Monika, saya bingung, rasanya tidak tenang jika Monika tidak tahu masalah saya. Karena selama ini, hanya Monika sajalah tempat saya menumpahkan keluh kesah saya, dan dia selalu bisa menyelesaikan persoalan yang saya hadapi.
Saya menatap wajah Monika erat, kemudian mendesah keras.
“ Akibat kedekatan saya dengan mereka, hubungan saya dengan Roni berantakan. Padahal selama ini nggak pernah ada masalah, dia selalu paham dengan keadaan saya yang nggak bisa lepas dengan Hendra dan Runa. Tapi belakangan ini dia jadi cemburuan. Saya nggak tahu apakah itu salah saya atau dia yang memang kelewatan karena ingin mengekang saya?”
Monika diam, seperti sedang berpikir.
“ kamu sayang banget sama Roni?” tanya Monika setelah berpikir sejaenak.
Saya mengangguk pelan tapi pasti.
“ Lalu kenapa kamu nggak pernah mau mengerti perasaannya? Dia nggak pernah marah dengan persahabatan kalian, bahkan dia mendukung. Masalahnya kamu justru memanfaatkan kepercayaan Roni hingga kamu lupa bahwa kesabaran Roni juga ada batasnya kan?”
Monika benar, saya memang sudah kelewatan karena sudah membuat Roni sakit hati. Saya paham itu, tapi nggak mudah bagi saya menjelaskan semuanya pada Hendra dan Runa. Mereka pasti tidak setuju.
“ Sekarang terserah kamu saja, mana yang menurut kamu baik.” Lanjut Monika. Ia berdiri kemudian meninggalkan saya menjauh.

Sember: http://www.wismacinta.com

%d blogger menyukai ini: