Problem Merokok

Banyak pengetahuan tentang bahaya merokok dan kerugian yang ditimbulkan oleh tingkahlaku merokok, namun tingkahlaku ini tetap saja dilakukan. Lebih lebih yang mencolok adalah merokok ditempat yang jelas-jelas terpampang himbauan untuk tidak merokok. Apakah hal ini dikarenakan begitu besarnya pengaruh akibat positif yang didapat dari tingkah laku merokok, sehingga para perokok sangat sulit meninggalkan kebiasaannya.

Gejala ini sangatlah menarik untuk di kaji.. Penulis mencoba melakukan pendekatan Filsafat Ilmu untuk menjawab Problematika Merokok tersebut dengan 3 pertanyaan yang penting dan mendasar: “Apa masalah yang sebenarnya?”, “Dari mana terjadinya masalah tersebut?” dan “Kemana tujuan dari masalah tersebut?”.

Apa Rokok itu?

Rokok adalah salah satu produk konsumen terlaris di dunia. Rokok memiliki sangat banyak pembeli yang loyal serta memiliki arus perdagangan yang berkembang pesat. Perusahaan-perusahaan yang memproduksinya membanggakan laba yang fantastis, kendali politik dan prestise. Rokok juga satu satunya produk (legal) yang,bila digunakan sesuai dengan tujuannya, akan membuat kebanyakan  pemakainya kecanduan.

Rokok mengandung lebih 700 jenis bahan kimia tambahan, yang kemungkinan digunakan oleh perusahaan rokok, namun undang-undang mengizinkan perusahaan untuk merahasiakan resep tersebut. Akan tetapi, dalam daftar resep tersebut, terdapat logam-logam,pestisida, dan insektisida. Beberapa bahan begitu beracun sehingga membuang bahan-bahan tersebut di pembuangan sampah merupakan pelanggaran hukum. Pusaran Asap rokok yang anggun membawa serta 4000 zat, termasuk arsenik,aseton,butan,karbonmonoksida, dan sianida. Paru-paru perokok dan orang yang berada di dekatnya akan terkena sedikitnya 43 zat yang diketahui menyebabkan kanker.

Siapa yang merokok?

Lebih kurang 1,1 milyar penduduk dunia merokok (World Bank,1999). Pada tahun 2025,jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat sampai dengan 1,6 milyar. Dengan jumlah perokok sebanyak 75% dari populasi, WHO melaporkan bahwa Indonesia adalah satu dari lima negara yang terbanyak perokoknya di dunia (Adiatma,1992)

.Hasil penelitian di berbagai daerah menunjukkan bahwa jumlah perokok pria di Indonesia adalah 18,8%-54% (Kristanti, Sapardyah dan Suhardi, 1988; Rustamadji, 1986, Masironi dan Rotwell, 1985, cit. Wawolumaya,1996;WHO,1985).

Remaja di Indonesia mulai merokok pada umur yang sangat muda. Hasil dibeberapa tempat menunjukkan bahwa remaja mulai merokok pada umur 5-12 tahun (Wawolumaya, 1996), 5-18 tahun dengan persentasi terbesar umur 14 tahun (Rustamadji, 1986), 10-14 tahun(Bandi, cit. Santoso, 1993), 8-10 tahun (Santoso, 1993),15tahun (Kristanti, Sapardiyah, Suhardi, 1998) dan 15-20 (Siregar, Yasid, Asykaruddin, Razali dan Siregar, 1985).

Mengapa orang merokok?

Alasan remaja mulai merokok di Indonesia bervariasi. Mereka merokok untuk pergaulan/persahabatan,coba coba, mengurangi tekanan/stres, meniru orang tua/dewasa yang sudah merokok,menimbulkan perasaan dewasa/matang dan perasaan jantan (Santosa,1993). Selain itu, 47%-65% remaja perokok di Indonesia mempunyai ayah perokok. Remaja Perokok pada umumnya berpendapat merokok merupakan hal yang umum, di kalangan remaja, meskipun merokok itu adalah kebiasaan buruk, namun merokok dapat menyebabkan gaul, meningkatkan kejantanan, menyebabkan rasa nyaman dan mengurangi stress. Remaja Prokok mengatakan tidak merokok  sama dengan tidak jantan. Dan mereka tahu bahwa lebih mudah mencegah daripada berhenti merokok.

Locken (1982) menyatakan bahwa keputusan seseorang merokok atau tidak secara keseluruhan dapat merupakan fungsi dari kombinasi berbagai keyakinan akan akibat-akibat tingkah laku merokok,baik yang bersifat positif maupun negatif Akibat positif positif tersebut dapat berupa : mengurangi stress, memudahkan dalam berinteraksi, membawa ke arah penerimaan kelompok teman sebaya, memberi kesibukan,relaksasi, menolong untuk berkonsentrasi dsb. Akibat negatif seperti : mengganggu orang lain, meningkatkan ketergantungan pada rokok, penyebab pernafasan buruk, meningkatkan kemungkinan terkena kanker,bau tidak enak dsb. Bagi individu tertentu, misalnya seorang perokok berat, akibat-akibat yang bersifat positif cenderung menutupi akibat-akibat yang bersifat negatif. Sebaliknya bagi individu yang tidak merokok, akibat-akibat yang bersifat negatif dapat meniadakan segala akibat-akibat yang positif .

Akibat Negatif Rokok.

Menurut  Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS secara kolektif  masa hidup para  perokok Amerika berkurang 5 juta tahun setiap tahunnya, kira-kira satu menit untuk setiap menit yang digunakan untuk merokok. “Merokok membunuh 420.000 orang amerika setiap tahun.” Demikian laporan majalah Newsweek. Itu berarti 50 kali lebih banyak dibanding yang meninggal akibat obat bius. Di dunia,tiga juta orang dalam setahun-enam orang setiap menit-meninggal akibat merokok, kata buku  Mortality From Smoking in Developed Countries 1950-2000,yang diterbitkan oleh Dana Riset Kanker Kerajaan Inggris,WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan Lembaga Kanker Amerika.Martin Vessey dari Depkes pada Universitas Oxford dengan nada serupa mengatakan,”Penemuan-penemuan selama 40 tahun ini menuntun kepada kesimpulan yang mengerikan,yaitu bahwa setengah dari semua perokok pada akhirnya akan terbunuh oleh kebiasaan mereka-gagasan yang benar-benar menakutkan.’ Sejak tahun 1950-an, 60 juta orang telah meninggal
karena merokok. Para dokter mengatakan bahwa dampak atas kesehatan yang disebabkan oleh larisnya rokok di Asia benar-benar mengerikan, The New York Times melaporkan. Richard Peto memperkirakan bahwa dari sepuluh juta kematian yang diduga berkaitan  dengan merokok setiap tahunnya dalam dua atau tiga dekade mendatang,dua juta akan terjadi di cina.

Ini adalah sebuah contoh kecil dari masalah kesehatan yang diajukan oleh para peneliti sehubungan dengan penggunaan tembakau: Kanker Paru Paru: Sebesar 87 persen kematian  karena kanker paru-paru didapati pada para perokok. Penyakit Jantung: Para perikok memiliki resiko 70 persen lebih besar terjangkit penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah. Kanker Payudara: Wanita yang merokok 40 batang atau lebih setiap hari memiliki kemungkinan 74 persen lebih besar meninggal karena kanker payudara.Kerusakan Pendengaran: Bayi-bayi  dari ibu yang merokok lebih sulit memproses suara. Resiko Diabetes:Para penderita diabetes yang merokok atau mengunyah tembakau memiliki resiko yang lebih tinggi terkena kerusakan ginjal serta proses retinopathy (kerusakan pada retina) yang berkembang lebih cepat.Kanker Usus Besar : Dua penelitian yang melibatkan lebih dari 150.000 orang memperlihatkan hubungan yang jelas antara merokok dan kenker usus besar. Asma: Embusan asap rokok dapat
memperrrrburuk asma di kalangan remaja. Kecenderungan untuk Merokok : Putri-putri daripara wanita yang merokok selama mengandung memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk merokok. Leukemia: merokok tampaknya menyebabkan leukemia myeloid. Cedera sewaktu berolahraga :Menurut sebuah penelitian Angkatan Darat  AS, para perokok memiliki kemungkinan lebih besar untuk cedera saat berolah raga Ingatan: Dosis nikotin yang tinggi bisa jadi mengurangi ketangkasan mental sewaktu seseorang sedang melaksanakan tugas yang rumit. Depresi: Para psikiater sedang menyelidiki bukti adanya hubungan antara merokok dengan depresi serta skizofrenia. Bunuh Diri: Sebuah penelitian atas para juru rawat memperlihatkan bahwa bunuh diri dua kali lebih besar kemungkinannya diantara para juru rawat yang merokok. Bahaya-bahaya lain : Kanker mulut,pangkal tenggorokan, esofagus, pankreas, lambung, usus kecil, kandung kemih, ginjal, dan leher rahim; stroke, serangan jantung,penyakit paru-paru yang kronis,
penyakit pada sistem peredaran darah, radang dinding lambung,diabetes,kemandulan,melahirkan bayi dengan berat yang kurang, osteoporosis(keropos tulang), dan infeksi telinga. Risiko Kebakaran dapat ditambahkan juga,karena merokok merupakan penyebab utama dari kebakaran rumah, hotel, dan rumah sakit

Akibat Positif Rokok.

Aspek Positif dari tingkahlaku merokok terutama berkaitan dengan masalah relaksasi dan kenikmatan sensoris. Nesbitt(Kleinke,dkk.1963)  dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa orang yang merokok merasa relaks saat merokok karena mereka mengatributkan semua gejala yang timbul saat merokok ke dalam rokoknya.

Grunberg (Supangat,1989) menerangkan bahwa nikotin yang terkandung dalam tembakau sangat cepat mempengaruhi jumlah accetyl choline neurotransmitter yang bisa menyebabkan seorang perokok merasa lebih yakin diri dan kadang-kadang pikiran terasa lebih cemerlang. Namun bila dalam jumlah banyak, nikotin justru menghentikan sama sekali produksi accetyl choline. Akibatnya, bila terlalu banyak merokok justru akan membuat perokok menjadi gelisah dan gemetaran. Menurut Glassman (Supangat,1989) peningkatan jumlah accetyl choline merangsang tubuh untuk memproduksi morfin tubuh (beta endorphins) dimana munculnya senyawa ini dalam darah dapat membangkitkan perasaan tenang dan melemaskan otot-otot atau santai..Keadaan demikian membuat perokok beranggapan bahwa rokok dapat menimbulkan perasaan relaksasi ketika menghadapi persoalan-persoalan yang rumit atau memusingkan. Dengan merokok akan memberikan pengaruh yang menentramkan ketika masuk dalam pergaulan sosial, lebih-lebih jika situasi tersebut
asing atau mencemaskan.

Bukan Perokok Namun Terkena Resiko.

Apakah anda tinggal, bekerja, atau seperjalanan dengan para perokok berat? Jika demikian ,anda mungkin memiliki resiko yang lebih besar terserang kanker paru-paru dan penyakit jantung. Sebuah penelitian pada tahun 1993 oleh EPA-Environmental Protection Agency(Lembaga Perlindungan Lingkungan) di AS menyimpulkan bahwa asap tembakau/rokok (ETS-Environmental Tobacco Smoke) yang ada dilingkungan kita   adalah karsinogen Group A, yaitu yang paling berbahaya. Laporan raksasa ini menganalisis hasil dari 30 penelitian yang menyangkut asap yang mengepul melingkar dari ujung rokok maupun asap yang diembuskan keluar.

EPA mempersalahkan asap tembakau yang ada di lingkungan atas 3000 kasus kematian karena kanker paru-paru setiap tahun di Amerika Serikat.Asosiasi Medis Amerika pada bulan Juni 1994 membenarkan kesimpulan tersebut dengan sebuah penelitian yang diterbitkannya yang memperlihatkan bahwa wanita yang tidak merokok namun terus terkena  ETS memiliki 30 persen resiko yang lebih besar untuk mengidap kanker paru-paru dibandingkan denan orang-orang yang tidak pernah merokok seumur hidup mereka.

Bagi anak-anak kecil, terus terkena  asap rokok tersebut mengakibatkan 150.000 hingga 300.000 kasus bronkitis dan radang paru-paru setiap tahun. Rokok memperburuk gejala-gejala asma dari 200.000 hingga 1.000.000 anak setiap tahun di Amerika Serikat.

Lembaga Jantung Amerika memperkirakan bahwa sebanyak 40.000 kematian setahun terjadi akibat penyakit jantung dan pembuluh darah yang disebabkan oleh ETS.

Adiksi/Ketergantungan/Kecanduan Rokok.

Di Amerika dilaporkan dari 17 juta orang yang berupaya untuk berhenti merokok setiap tahunnya, 90 persen gagal dalam kurun waktu satu tahun. Setelah pembedahan kanker paru-paru, hampir 50 persen dari para perokok AS kembali kepada kebiasaan mereka. Dari antara para perokok yang terkena serangan jantung, 38 persen menyulut rokok lagi bahkan sebelum meninggalkan rumah sakit. 40 persen perokok yang diangkat pangkal tenggorokkannya karena kanker akan mencoba merokok lagi.

Dari jutaan perokok remaja di Amerika Serikat, tiga perempatnya mengatakan bahwa mereka telah membuat sedikitnya satu kali upaya yang serius untuk berhenti merokok namun gagal..Dilaporkan bahwa duapertiga perokok mempunyai keinginan untuk berhenti merokok ( Ogden, 1996). Dari peristiwa diatas, ternyata berhenti merokok bukanlah persoalan yang mudah.

Di laporkan bahwa Nikotin adalah salah satu zat yang paling bersifat mencandukan yang dikenal manusia, dan salah satu yang paling berbahaya. Nikotin mempercepat denyut jantung dan mempersempit pembuluh darah.Nikotin diserap ke dalam aliran darah dalam waktu 7 detik-bahkan lebih cepat daripada suntikan langsung kedalam pembuluh darah. Nikotin  menyebabkan otak menginginkan lebih banyak, suatu keinginan yang oleh beberapa pihak dikatakan dua kali lebih bersifat mencandukan dibanding dengan Heroin.Nikotin memang bersifat mencandukan, dan menghisap rokok memang  sulit untuk dihentikan. Ketergantungan  pada Nikotin lebih besar daripada kuatnya motivasi merupakan penghambat usaha untuk berhenti merokok (Jarvis,1994)

Aspek Ekonomi Rokok yang positif.

Pemerintah dalam taraf tertentu bergantung kepada Rokok. Pemerintah AS, misalnya meraup 12 miliar dolar setahun dari pajak pemerintahan pusat maupun negara bagian atas produk tembakau

Industri tembakau menyediakan lapangan pekerjaan yang baik di negara-negara yang angka penganggurannya terus meningkat. Sebagai contoh di  Argentina, satu juta pekerjaan tercipta karena industri rokok, di tambah empat juta pekerjaan lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan industri rokok tersebut. Pendapatan pajak yang sangat besar yang diperoleh dari perusahaan-perusahaan tembakau menyenangkan pemerintah.

Nilai ekonomi tembakau di Indonesia sungguh fantastis. Pada tahun 1990, 183.785 hektar tanah ditanami tembakau. Antara tahun 1990-1992 Indonesia memproduksi lebih kurang 2% dari seluruh produksi tembakau di dunia. Oleh karena  nilai ekonomi tembakau, Indonesia hanya memiliki kebijaksanaan dan peraturan anti merokok minimal. Iklan Rokok dimana-mana dapat dengan mudah dijumpai (di jalan, media massa, televisi, radio dsb). Berbagai macam kegiatan (olah raga, seni, sosial dsb) juga didukung oleh industri rokok. Larangan merokok hanya kita jumpai di kantor,fasilitas kesehatan, dan sekolah.

Aspek Ekonomi Rokok yang negatif.

Dari segi ekonomi, menurut Report of WHO Expert Committee(1963), ada tiga hal penting sehubungan dengan efek negatif dari tingkahlaku merokok. Efek ini adalah berikut ini :

a.       Penurunan produksi (loss of production) yang diakibatkan oleh menurunnya harapan hidup, meningkatnya absensi kerja karena penyakit yang didapat dari merokok, serta meningkatnya gangguan yang bersifat permanen.

b.      Meningkatnya biaya perawatan kesehatan sebagai akibat dari penyakit yang ditimbulkan dari merokok.

c.       Kebakaran dan kecelakaan yang bisa timbul dari tingkahlaku merokok yang dilakukan secara tidak hati-hati sehingga berakibat jatuhnya korban jiwa dan sumberdaya alam.

Kajian Praktis Filsafat Ilmu tentang Merokok.

Setelah membaca  Apa Rokok itu?, Siapa yang merokok?, Mengapa merokok? Akibat positif & negatif merokok, Bukan perokok namun terkena resiko, Kecanduan Rokok, Aspek Ekonomi negatif dan posif, penulis berharap: pembaca memperoleh pengetahuan tentang  Problematika Merokok yang telah diuraikan didepan. Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar didalam pikiran kita.

Dari sudut pandang Filsafat ilmu (ontologi,epistemologi), pertanyaan : “Apa  problematika Merokok yang sebenarnya ?” dan “Darimana terjadinya problematika Merokok” tersebut  sudah terjawab dengan pengetahuan yang telah ditulis dan diterangkan dengan metode penulisan berdasarkan bukti-bukti yang sahih dari berbagai observasi dan penelitian para ahli..

Landasan Ontologis  “Problematika Merokok” adalah titik tolak penelaahan masalah tersebut didasarkan atas sikap dan pendirian penulis, dimana merupakan cara pandang terhadap suatu realitas yang ada.

Meskipun banyak pengetahuan tentang bahaya merokok dan akibat negatif merokok  bagi perokok maupun bagi lingkungan sekitarnya yang ditimbulkan, namun tingkahlaku merokok ini  tetap saja dilakukan. Hal tersebut merupakan suatu realitas yg ada di masyarakat. Pengetahuan  tentang  akibat negatif rokok terhadap perokok dan lingkungannya (bukan perokok)  serta mengapa orang merokok telah ditulis dan dijelaskan secara sistematik. Hal  tesebut diatas merupakan landasan ontologis dari problematika merokok.

Landasan Epistemologi “Problematika Merokok”  adalah titik tolak penelaahan masalah didasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah metode ilmiah. “Problema Merokok” mencoba di terangkan dengan metode siklus empirik, dimana penulis berusaha membahas masalah ini berdasarkan bukti-bukti yang telah teruji validitasnya. Bukti bukti yang diambil dari beberapa penelitian para ahli meliputi observasi, penerapan metode induksi, melakukan eksperimentasi(percobaan), verifikasi atau pengujian ulang tehadap hipotesis yang diajukan, sehingga melahirkan teori.

Problematika Merokok berusaha dijelaskan dari  berbagai aspek, baik itu aspek negatif dan aspek positif. Adiksi/Ketergantungan Rokok dan  Iklan rokok yang  ada di berbagai tempat dan media juga merupakan hal yang mendorong perilaku merokok yang makin lama makin meningkat. Metode pembahasan masalah  berdasarkan bukti-bukti yang valid, penelitian  para ahli, dan teori yang telah teruji merupakan metode ilmiah/landasan  epistemologi dalam menjelaskan problematika merokok.

Sedangkan Kemana tujuan dari “Problematika Merokok?”, akan dibahas lebih mendalam sebagai landasan aksiologis dari problematika merokok tersebut diatas. Dalam hal ini, pengetahuan mengenai merokok tidak selalu sama dengan sikapnya terhadap merokok. Pengetahuan saja belum cukup menjadi kesiapan untuk melakukan kegiatan, seperti halnya dalam sikap. Pengetahuan tentang merokok baru bisa menjadi suatu sikap apabila pengetahuan tersebut disertai oleh kesiapan untuk bertindak sesuai dengan perasaannya terhadap merokok itu sendiri. Demikian halnya dengan pengetahuan mengenai akibat-akibat negatif dari tingkahlaku merokok tidaklah selalu sama dengan sikapnya terhadap akibat merokok. Misalnya bagi perokok berat, akibat-akibat yang bersifat positif cenderung meniadakan akibat-akibat yang bersifat negatif. Alasan bahwa merokok akan membantu belajar akan sangat berarti pada saat sikap terhadap belajar akan melibatkan sikap terhadap orang tua,guru, karir masa depan, dan lain-lain.(Sears,1985).

Karena itu, meskipun telah banyak bacaan-bacaan atau himbauan-himbauan mengenai bahaya merokok maka tingkahlaku merokok masih saja tetap dilakukan . Meskipun demikian, miskinnya pengetahuan ataupun tiadanya keyakinan terhadap akibat-akibat merokok dapat menyulitkan individu untuk membangun suatu sikap,ataupun akan memiliki sikap yang cenderung lemah.

Menentukan merokok atau tidak merokok ternyata bukan perkara yang mudah. Akan tetapi dengan pendekatan Aksiologi Keilmuan akan tampak lebih mudah, karena setiap tindakan apapun harus berlandaskan kaidah moral sehingga para ilmuwan (dokter) harus berpaling ke arah hakikat moral.

Terhadap kaidah moral, para ilmuwan (dokter) terpecah dalam 2 pendapat:

a.Ilmu harus tetap netral dan terbebas dari nilai. Karena ilmuwan (dokter) hanya bertugas menemukan dan terserah pada mereka yang akan menggunakan.

b.Netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanya terbatas pada penemuan sedangkan pada penggunaannya bahkan pemilihan obyek penelitian harus berlandaskan kaidah moral.

Pengetahuan ilmiah sering tidak begitu diperdebatkan, lain halnya dengan adanya pengetahuan/kaidah moral. Cukup banyak orang menganggap bahwa dalam hal moral tidak ada kebenaran yang bersifat obyektif dan universal. Penilaian dan putusan Moral adalah soal perasaan pribadi atau paling-paling produk budaya tempat orang lahir dan dibesarkan. Dalam hal moral tidak ada klaim kebenaran yang absah.

Keputusan sikap seseorang untuk menentukan merokok atau tidak merokok sangat tergantung terhadap pengetahuan ilmiah  tentang merokok dan kaidah moral dari merokok yang dimiliki setiap orang. Masing-masing orang/individu mempunyai kaidah moral yang berbeda satu dengan yang lain..

Akhirnya saya berharap, pembaca dapat berfilsafat tentang “MEROKOK” dengan asumsi-asumsi atau keyakinan-keyakinannya. Selain pengetahuan tentang merokok yang telah diuraikan dalam tulisan ini dan dengan mempertimbangkan kaidah moral yang sifatnya individual, pembaca dipersilahkan memutuskan mau merokok atau tidak merokok Yang jelas apabila pembaca telah berfilsafat tentang Merokok, saya yakin pembaca yang perokok akan lebih toleran terhadap yang bukan perokok, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian jelaslah manfaat dari ber-Filsafat yaitu akan membuat kita semakin mandiri secara intelektual, dan kita akan semakin lebih toleran terhadap perbedaan sudut pandang,  juga akan semakin membebaskan diri dari dogmatisme

Penutup

Langkah langkah dalam menjawab masalah yakni Problematika Merokok  merupakan kerangka yang pemikirannya mengacu  dalam Filsafat ilmu. Dalam penetapan masalah, “Problematika Merokok” merupakan sesuatu  yang  dibatasi  oleh jangkauan  pengalaman empiris serta kajian metafisis yang bertujuan untuk menggali hakikat realitas yang bersifat sebagaimana adanya.

Sedangkan proses penyelesaian masalah “ Problematika Merokok” secara empiris dapat dikaitkan dengan epistemologi keilmuan dimana pembahasan dipusatkan pada metode ilmiah  dengan berbagai aspek pemikiran yang mendasarinya seperti sumber pengetahuan, kriteria kebenaran, cara penarikan kesimpulan menurut logika. Demikian juga hakikat sarana berpikir ilmiah seperti bahasa, logika, matematika dan statistika juga digunakan oleh penulis dengan mengaitkan kepada proses berpikir ilmiah untuk bisa menjawab Apa problematika merokok yang sebenarnya dan darimana terjadinya problema merokok.

Akhirnya kegunaan yang diperoleh dari tulisan ini, dapat dikaitkan dengan aksiologi keilmuan: yang membahas nilai kegunaan tulisan ini, yang sekaligus membahas tentang kaidah moral. Sehingga pembaca bisa menjawab apakah akan merokok atau tidak merokok.

Pembahasan dengan kajian filsafat ilmu seperti dalam tulisan mengenai MEROKOK diatas, diharapkan memungkinkan berkembangnya pengkajian filsafat yang berorientasi kepada ilmu kedokteran dengan menekankan  kepada aspek aspek filsafat yang penting dan sekaligus menyaring yang kurang penting. Atau dengan perkataan lain, pengkajian filsafat ilmu  kedokteran benar-benar dipusatkan kepada berbagai masalah yang hidup sekitar ilmu kedokteran. Hal ini secara tersurat dikemukakan, sebab bahwa bukan tidak mungkin sebuah kuliah filsafat ilmu terlalu dititikberatkan kepada aspek filsafat yang bersifat umum dan kurang membahas kaitannya dengan kegiatan keilmuan dalam bidang kedokteran misalnya, sehingga tujuan untuk memperkuat landasan filsafat seorang dokter (ilmuwan)  kurang begitu tercapai.

Dengan demikian yang terpenting adalah : Bagaimana mamperkuat dasar-dasar keilmuan dengan memperkuat dasar-dasar filsafatnya sehingga diharapkan ilmu kedokteran dapat  berfungsi sebagai pengetahuan yang diterapkan  dalam memecahkan masalah kita sehari-hari.

Dalam rangka mencari dan menemukan sintesis dari apa yang telah kita pelajari sampai sekarang tentang pengetahuan merokok, maka pada bagian penutup ini kita akan mencoba melihat dan menempatkan kegiatan manusia mencari dan mengembangkan pengetahuan merokok dalam konteks kegiatan manusia mencari kebijaksanaan.

Kata “fisafat” berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat.Jadi fisafat artinya “cinta akan kebijaksanaan. Cinta artinya hasrat hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya.

Filsafat dan ilmu (sains) harus dibedakan : Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran dan hubungan logis diantara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep)  yang tidak dapat dipecahkan dengan ilmu empiris.

Ilmu (sains)  menghadapi  soalnya  dengan pertanyaan : “Bagaimana “ dan “Apa Sebabnya?”. Filsafat meninjau dengan pertanyaan : “apa itu”,”darimana”, dan “kemana”. Jadi, Filsafat  adalah ilmu tentang hakikat.

Kalau pengetahuan kita tempatkan dalam konteks mencari kebijaksanan, maka persepektif memberi makna pada kehidupannya sebagai salah satu tujuan manusia mencari pengetahuan.Kiranya perlu digarisbawahi, guna menghindari  kecenderungan mempersempit pengertian pengetahuan sebagai identik dengan sains. Selain pengetahuan  ilmiah, tidak kalah pentingnya, pengetahuan moral dan pengetahuan religius, serta pengetahuan praktis lain dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita mau hidup secara bijaksana, pengetahuan-pengetahuan nonilmiah itu perlu diberi tempat dalam kehidupan kita.

Bijaksana adalah sifat  manusia yang muncul sebagai hasil dari usahanya untuk berpikir benar dan berkehendak baik. Berpikir benar saja ternyata belum mencukupi. Dapat saja orang berpikir bahwa memfitnah adalah tindakan yang jahat. Tetapi dapat pula ia tetap memfitnah karena meskipun diketahuinya itu jahat, namun ia tidak menghendaki untuk tidak melakukannya. Cara berpikir yang filosofis adalah berusaha untuk mewujudkan gabungan antara keduanya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: