Absorbsi zat besi

Penyerapan zat besi terjadi dalam lambung dan usus bagian atas yang masih bersuasana asam, banyaknya zat besi dalam makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh tergantung pada tingkat absorbsinya. Tingkat absorbsi zat besi dapat dipengaruhi oleh pola menu makanan atau jenis makanan yang menjadi; sumber zat besi. Misalnya zat besi yang berasal dari; bahan makanan hewani dapat diabsorbsi sebanyak 20 -30% sedangkan zat besi yang berasal dari bahan makanan tumbuh-tumbuhan hanya sekitar 5 %.

Zat besi yang terkandung dalam makanan dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk kimianya, penyantapan bersama dengan faktor-faktor yang mempertinggi dan atau menghambat penyerapannya, status kesehatan dan status zat besi individu yang bersangkutan. Zat besi cemaran biasanya mempunyai daya serap yang rendah, kecuali zat besi yang diperoleh dari panci tempat memasak.

Pengaruh bahan makanan tersebut jelas dapat diketahui seperti bahan makanan yang sering dikonsumsi oleh orang Amerika Latin yaitu terdiri dari tepung maizena, beras dan kacang hitam yang mengandung zat besi sebanyak 0,17 mg, dan apabila ditambahkan dengan vitamin C dalam bentuk asam askorbat murni (50 mg) atau kembang kol (125 mg), maka jumlah zat besi yang terserap akan meningkat menjadi 0,41 mg dan 0,58 mg. Banyak lagi jenis bahan makanan di daerah tertentu dapat terjadi hal seperti yang tersebut di atas.

Sebaliknya, dengan meminum teh terutama teh kental akan menimbulkan pengaruh penghambatan yang nyata pada penyerapan zat besi. Contoh-contoh ini menunjukkan dampak yang dramatis akibat penambahan sedikit penghambat atau pemacu penyerapan zat besi kedalam makanan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penghambatan penyerapan itu adalah tannin dalam teh, phosvitin dalam kuning telur, protein kedelai, phytat, asam folat, kalsium dam serat dalam bahan makanan, zat-zat gizi ini dengan zat besi membentuk senyawa yang tidak larut dalam air, sehingga sulit untuk di absorbsi.

Protein nabati maupun protein hewani tidak meningkatkan absorbsi zat besi. Tetapi bahan makanan yang disebut meat factor seperti daging, ikan dan ayam, apabila hadir dalam menu makanan walaupun dalam jumlah yang sedikit akan meningkatkan absorbsi zat besi bukan hem yang berasal dari serealia dan tumbuh tumbuhan. Jadi apabila didalam menu makanan sehari-hari tidak hadir bahan makanan tersebut di atas, maka absorbsi zat besi dari makanan akan sangat rendah, perlu diketahui bahwa susu, keju dan telur tidak meningkatkan absorbsi zat besi.

Taraf gizi besi seseorang juga akan mempengaruhi absorbsi zat besi, semakin tingginya kebutuhan akan zat besi maka, akan semakin besar tingkat absorbsinya. Misalnya : pada masa pertumbuhan, pada masa hamil, penderita anemia dan infeksi atau infeksi kecacingan. Dengan kata lain penyerapan zat besi berkaitan dengan status besi masing- masing individu.

Zat gizi yang telah dikenal luas dan sangat berperan dalam meningkatkan absorbsi zat besi adalah vitamin C, yaitu meningkatkan absorbsi zat besi bukan hem sampai empat kali lipat. Vitamin C dengan zat besi membentuk senyawa askorbat besi kompleks yang larut dan mudah diabsorbsi, karena itu sayur-sayuran segar dan buah-buahan yang mengandung vitamin C baik dimakan untuk mencegah anemia kurang besi.

Hal ini mungkin disebabkan bukan saja karena bahan makanan itu mengandung zat besi yang banyak. tetapi mengandung vitamin C yang mempermudah absorbsi zat besi. karena dalam hal-hal tertentu faktor yang menentukan absorbsi lebih penting dari jumlah zat besi yang ada dalam bahan makanan itu.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: