Sikap Gereja pada Globalisasi

Sikap Gereja
Globalisasi dianggap suatu yang besar, lebih dari apapun yang sedang membentuk dunia saat ini, karena itu menyentuh segala bidang kehidupan. Kita tengok beberapa bidang yang ada kaitannya dengan gereja, dan bagaimana kita harus menyikapinya.
1. Ekonomi:
Segi positif: meningkatkan kemampuan gereja untuk memperluas kerajaan Allah dan melayani sesama.
Segi negatif: timbulnya sekularisasi, materialisme, komersialisasi hal-hal rohani (bandingkan Kid 8:18-20), dan sikap narcisis/egois yang mengorbankan nilai-nilai iman/rohani (ajaran teologi kemakmuran, fenomena debu emas/intan, “benih iman”/”seed-faith, dll).
Gereja perlu melanjutkan Zakheus-Zakheus (Luk 19:8) dan Barnabas-Barnabas (Kis 4:36-37). Bukan ‘duit’ tapi ‘ do it’ yang harus diutamakan.
2. Teknologi Telekomunikasi :
Perkembangan alat-alat telekomunikasi, terutama penggabungan beberapa teknologi informasi yaitu komputer, telepon dan televisi, memberi peluang PI, menggerakkan setiap anggota gereja terlibat dalam pelayanan.
Sisi negatifnya:
– Kemajuan telekomunikasi informasi juga membuka peluang masuknya arus informasi yang tidak bertanggung jawab (hal-hal yang menyesatkan, pornografi, kekerasan, dan ide-ide jahat). Harus dibarengi pembinaan moral dan etika.
– Tanpa sentuhan manusiawi (personal communication) dari hati-ke hati (seperti Yesus dengan Zakheus, dengan wanita Samaria). Persekutuan antar pribadi orang beriman perlu dijaga (Ibr 10:25).
– PI melalui alat-alat telekomunikasi bersifat verbal. Perlu diikuti PI yang bersifat nyata/perbuatan/sosial (Yak 1:27).
3. Budaya :
Berkaitan dengan nomor 2 di atas, arus budaya global juga menyerbu gereja (terutama musik dan tarian lewat kaset-kaset lagu atau video). Ini memang menimbulkan gairah baru yang menyegarkan dalam ibadah gereja.
Yang harus dipertanyakan:
– Apakah gairah dalam praise & worship itu serta merta dibarengi pertumbuhan menuju kedewasaan rohani serta pembaharuan etis-moral hidup Kristiani? (Baca kitab Amos dan Mikha yang penuh nuansa moral).
– Ada bahaya titik berat ibadah bergeser dari pemberitaan/penghayatan Firman menjadi sekedar pelipur lara dan pemuasan emosional (misal dengan bahasa lidah). Padahal iman hanya bertumbuh dan menjadi kuat oleh pemahaman Firman Allah yang sehat (Rom 10:17; I Pet 2:2; Yoh 17:17).
4. Peranan Wanita
Era globalisasi ditandai pula dengan munculnya pemimpin-pemimpin wanita atau wanita-wanita karier di berbagai bidang kehidupan. Martabat wanita terangkat. Ini positif bagi gereja karena di dalam gereja jumlah wanita umumnya lebih banyak daripada pria.
Yang harus diwaspadai:
– kemungkinan terjadinya perceraian lebih meningkat, lebih-lebih kalau istri lebih menonjol daripada suami.
– Wanita jangan melupakan fitrahnya sebagai ibu rumah tangga (harus membatasi waktu kerja dan karier). Feminisme menuntut wanita harus sama dengan pria dalam segala hal. Tidak mungkin.
– Kemitraan/partnership antara suami dan istri harus tetap dipelihara (Kej 2:18)
5. Agama / Spiritualitas
Terjadi kebangkitan agama-agama di jaman globalisasi ini (God at Work). Perubahan-perubahan cepat membuat manusia kehilangan keseimbangan dan memerlukan pegangan spiritual. Orang lalu lari ke agama-agama:
– Yang bersifat batin/ke dalam: Hindu, Budha, Konfusius, Sinto, Kebatinan, Karismatik, New Age.
– Yang bersifat keluar (otoriter/legalistis): Islam fundamentalis
Gereja juga tak luput dari perkembangan ini: merebaknya persekutuan atau kebaktian-kebaktian di kantor-kantor, hotel-hotel, rumah-rumah makan, karena menganggap gereja-gereja mapan tak mampu mengisi kekosongan batin umatnya.
Yang harus diwaspadai:
– Yang berkembang belum tentu benar secara teologis, yang tidak/kurang berkembang belum tentu tidak benar (bandingkan 450 nabi Baal >< Elia :I Raj 18:16-19)
– Gerakan-gerakan Kristen jangan hanya jadi ajang pertunjukan/ entertainment, obat bagi kerisauan jiwa (Bandingkan Yoh 4:13-14)
– Gereja-gereja mapan atau tradisional harus menyadari kekurangannya dalam melayani kebutuhan anggotanya akan nilai-nilai rohani yang lebih dalam. Gereja harus bisa menjadi transformator masyarakat melalui transformasi individu-individu. “Not having religion but being religius”. Untuk ini pembentukan komsel sangat membantu (Kis 2:46).
6. Individu
Era globalisasi adalah era kemenangan individu. Globalisasi yang sarat informasi tinggi, membuka peluang bagi individu-individu yang lebih gesit bergerak ketimbang lembaga-lembaga untuk menjalankan amanat Tuhan Yesus.
Kebangkitan kaum awam terjadi. Jemaat secara individual bisa lebih leluasa memilih ajaran-ajaran yang ingin diikutinya. Ini memacu munculnya individualisme yang tidak/kurang berpikir oikumenis.
Hal yang harus diwaspadai:
– Tiap orang mudah mengajarkan keyakinannya sendiri dengan menulis buku atau traktat, mencetaknya dan menyebarluaskannya. Kotbah-kotbahnya direkam sendiri dan dikirimkan kemana-mana. Lebih-lebih kalau didukung dana kuat (misal: penerbitan Alkitab 2000 – Injil dan Taurat).
– Menimbulkan kebingungan di antara umat karena banyaknya tawaran. Di sini perlu adanya sikap kembali kepada Alkitab dengan hermeunetik yang sehat (II Tim 2:14-19).
– Gereja harus mengembangkan kesalehan sosial, bukan hanya kesalehan ritual di antara warganya, sehingga tidak menjadi ekstrem.
– Kerjasama atau kebersamaan harus terus dikembangkan tidak secara struktural tapi jaringan kerja (networking).

Sumber: http://www.ladangtuhan.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: